Tuesday, February 24, 2009

B2W vs. Polusi Udara

Alasan utama orang enggan melakukan bike-to-work selain kondisi lalu-lintas yang semerawut adalah bahaya polusi udara terhadap kesehatan. Banyak yang mengatakan para pesepeda sebagai orang gila yang mau bunuh diri. Khususnya di kota Jakarta yang konon kabarnya adalah kota no.3 ter-polusi di dunia.
Lalu diantara pemakai jalanan seperti pengguna sepeda motor, mobil, metromini, bajay atau bus, apakah pengendara sepeda menjadi korban yang terparah?
Ingat, kita semua termasuk pejalan kaki, hewan dan tanaman yang berada di kota besar seperti Jakarta, sebenarnya sudah menjadi KORBAN POLUSI UDARA yang kita produksi setiap saat, setiap hari, setiap tahun, bahkan mungkin sepanjang hayat.
Yang terparah sudah bisa dipastikan adalah pengguna jasa bajay, metromini dan bis. Bagaimana tidak selain seringkali berdesak-desakan, dan menghirup udara terpolusi langsung, ditambah lagi para perokok yang seakan tidak mau peduli dengan aturan larangan merokok ditempat umum!
Pengguna mobil, jangan dikira kalau sudah pakai AC lalu bisa bebas polusi, belum tentu loh. Kebersihan dalam mobil yang jarang dibersihkan seringkali menjadi sarang yang nyaman bagi bakteria udara terutama pengguna taxi. Kondisi mobil yang tidak lagi baru dan prima menyebabkan udara luar masuk dengan mudah dan ini yang kita hirup .... belum lagi kalau kondisi jalan lagi macet-macetnya.
Pengendara sepeda motor, sepanjang mereka masih dapat bergerak mencari udara lebih segar, masih lebih lumayan; makanya disetiap lampu merah mereka selalu berusaha merangsek kedepan sampai melewati batas berhenti. Hanya saja di Jakarta kalau lagi macet, motor-pun kerap kali turut menderita, dan apesnya lagi mereka menghirup udara ”segar” yang terkontaminasi polusi asap knalpot.

Bagaimana dengan pengendara sepeda?
Para pekerja bersepeda hampir dipastikan berusaha untuk menghindari jalur yang pengap dengan polusi udara, mereka lebih tertarik mencari jalan alternatif yang jarang dilalui kendaraan bermesin, bahkan tidak jarang masuk ke jalan-jalan ”tikus” untuk mencari jalur yang rendah polusi. Belum lagi sepeda yang ringan dan lincah memungkinkan untuk selalu bergerak dikepadatan lalu lintas.
Keuntungan lain bagi para pesepeda adalah secara tidak langsung telah melakukan olah-raga memperkuat otot, mengurangi lemak, melatih koordinasi keseimbangan dan juga meningkatkan kemampuan cardio. Dan ini jelas membutuhkan oxygen yang lebih banyak dibandingkan mereka yang pasif, duduk dalam mobil atau kendaraan umum. Bagusnya bagi ”olahragawan” sepeda, mereka menghirup dan menghembuskan lebih banyak udara dibandingkan mereka yang pasif tadi dalam satuan waktu yang sama. Sehingga hazardous particles tidak sempat mengendap di paru-paru dan salurannya.

Bagaimana mengurangi efek polusi udara ketika bersepeda?
Tidak seperti kebanyakan pengguna sepeda motor yang menggunakan kain sebagai masker atau masker kasa. Para pekerja bersepeda sudah banyak yang menggunakan masker khusus untuk racun ringan yang dapat ditemukan dengan mudah ditoko bangunan dengan harga cukup terjangkau (sekitar 30-40ribu + 4500 untuk replaceable filter-nya). Memang pada awalnya menggunakan masker ini membuat bernafas menjadi sulit, tapi setelah beberapa kali, biasanya kendala ini bisa diatasi.
Hasil penelitian ilmiah dibelahan bumi lain berikut ini juga membuktikan bahwa pengguna mobil ternyata lebih beresiko terkena efek polusi udara lebih parah dibandingkan pesepeda.